ibu lima belas menit


malam lalu,

aku mendengar jerit tangis seorang ibu ntah kenapa ibu itu menangis sampai larut

ku hampiri ibu itu karena tak kuasa aku melihat tak seorang pun mampu mendekatinya

aku bertanya

“ibu, ibu kenapa menangis sampai sedalam ini”

si ibu pun tak menjawab.

ku tanya lagi pada si ibu

“ibu, apa yang ibu tangisi seorang diri?”

si ibu tetap tak mampu berkata karena tertutupi oleh air mata kesedihan

aku pun duduk di samping si ibu

sambil mengusap air matanya aku pun membujuk ibu untuk berbicara padaku

“ibu, jika engkau enggan berbicara kepada orang lain,

anggaplah aku ini anakmu ibu”

si ibu langsung menghentikan sesak tangisnya

dan berkata

“nak, ibu rindu sekali dengan anak ibu yang tak pernah pulang,

dan ibu pun tak pernah menjadikan dia seorang yang durhaka,

ibu tak tau harus memeluk siapa jika anakku tak lagi ingin mengakui ibunya”

seketika itu si ibu langsung memelukku dan berkata

“nak, jadilah anakku sesaat sebelum aku meningggalkan dunia ini”

aku pun juga bingung apa yang di maksud ibu ini,

lagi pula kenapa dia tak melepaskan pelukannya kepadaku hingga lima belas menit terakhir,

lalu aku sadar si ibu telah menghembuskan nafasnya yang terakhir.

aku lebih bingung lagi,

apa aku telah membunuh si ibu?

aku cuma memelukknya,

apakah ini sudah memang waktunya.

aku hanya bisa mengucapkan

Ibu,

terima kasih telah menjadi ibu ku selama lima belas menit itu.

Engkau tetap pernah dan akan menjadi ibuku.

betapa hangat peluk sosok ibu lima belas menit itu

engkau tetap seorang ibu yang mulia

IBU.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s